Menjadi ibu rumah tangga?

Mau menjadi apa mungkin pertanyaan yang sudah kita dengar sejak kita kecil. Ketika duduk d bangku sd, smp, sma, bahkan ketika sudah kuliah. Bedanya, mungkin ketika kuliah pertanyaannya sedikit berubah redaksi, menjadi mau kerja apa/dimana setelah lulus.
Jawaban dari pertanyaan tersebut pun beragam, bisa jadi ketika sd ingin menjadi pilot, smp ingin menjadi dokter, sma ingin kerja dikantor dll. Ya seperti itu. Kriteria pekerjaan kita inginkan akan berubah seiring dengan bertambahnya usia, bertambah luasnya pergaulan dan pengalaman, tentu saja peluang yang tersedia menjadi salah satu faktor.
So, jenis pekerjaan apa yang akhirnya saya pilih?
Ibu rumah tangga? Yep, absolutly. Sudah hampir satu bulan saya berprofesi sebagai ibu rumah tangga. Setelah menikah akhir juli lalu, saya diharuskan ikut suami yang kebetulan tinggal diluar kota. Kebetulan juga pekerjaan saya sedang libur sampe September nanti. Jadi,, sekarang saya sedang terdampar di sebuah kota yang tidak ada satupun sanak saudara. Hiks. Menjalani lembaran hidup baru dengan pengalaman dunia pernikahan bernilai nol dan minim pengetahuan. Kehidupan baru yang serba trial and errorr. Benar benar kehidupan baru yang dipaksa menjadi mandiri. Dan harus mandiri.
Seharusnya, setelah nikah, pengantin baru tinggal dirumah orang tua dulu, paling gak 6 bulan yaa. Jadi si pengantin baru akan learning by doing dari orang tuanyaa. Tapi ya sudah laah. Over all, i love my new life, i even more love it because my hubby was the best hubby ever. I love you, hubby!!
So, jadi ibu rumah tangga, ngapain aja?
Well, ngapain aja ya? Yaa melakukan pekerjaan yang seharusnya dilakukan oleh ibu rt lainnya. Bersih2, masak, cuci2, dan nyetrika. Sejauh ini masih itu aja sih, kan belum punya baby jadi belum rempong yaa. Tapi baru hampir satu bulan aja, saya udah mulai bosen kerja dirumah. Dunia terasa sangat sempit. Dunia ibu rumah tangga cuma seluas rumah dan pasar aja. Sempit bangit. But, i love cook. So, when i got bored, i try to cook something.
Saya suka mencoba resep resep baru. Biasanya saya browsing trus belanja the ingredients, terus dicoba deh. Alhamdulillah my hubby is the best judges. Seaneh apapun rasanyaa, responnya “waah enak banget”. Sejauh ini, yang paling enak katanya perkedel kentang ayam, dan yang paling oke menurut saya kebab ayam, rasanya mirip2 kebab baba raf* gituu. hhmm so, nyummy.. Cuman minus dikulitnya aja, terlalu tebel. But i love it. Setelah sukses bikin kebab yang menurut saya rasanya enak bangeet, i said to my hubby, ” i think i should sell this kebab”.
Oke, ini curhatan ibu rumab tangga yang sedang bosen karena ditinggal suami kerja. Apapun yang sedang kita lakukan sekarang, apapun profesi yang sedang kita jalani, enjoy it and be happy. Niatkan semua yang kita kerjakan untuk hal yang baik baik, insyallah semoga yang akan kita dapatkan juga hal yang baik. Aamiiin.
Cukup sekian dulu yaa. See you in the next page 😘

Hallo minna-san, its been a long time, since my last post, right? Iyaa beberapa bulan terakhir saya punya banyak kerjaan yang harus diselesaikan. Selulusnya dari its, hidup mulai berubah, status berubah, kegiatan berubah, kesibukan juga berubah.
Ada banyak hal yng telah saya lalui dalam waktu dua semester ini. Banyak rasa, banyak warna. Kadang manis kadang pahit, kadang cerah kadang mendung. Ya begitu lah hidup, dinamis!! Manusiawi lah yaa.

September tahun lalu, status saya resmi berubah dari mahasiswa menjadi pengangguran. Kemudian gak lama, berubah lagi menjadi dosen disebuah univ swasta, dan bulan lalu, status ktp saya akhirnya berubah juga, dari single menjadi double. Uye uyee uyee laalala. Pengen cerita sebenarnya penjalanan panjang pencarian cinta sejatiii, nanti lah yaa. Sekarang pengen basa basi dulu.

Dulu pernah ada yang ngomong, dont grow up, its a trap. Ternyata beneer banget. Menjadi tua itu gak se-menyenangkan ekspektasi. Menjadi dewasa juga gak seindah teorinya. Tetaaapiii menjadi tua dan menjadi dewasa itu challenge bangeet. Pertualangan hidup yang pasti akan kita jalani, perjuangannya beragam dan rintangan yang kadang menegangkan. Over all, semua kita akan mengalami fase ini. So, for Young generation, prepare your self. 

Apa kabar hati? Apakah ia masih utuh? Apakah ia masih seputih dulu? Masihkah ia se-tenang dulu? Masihkah ia se-cantik dulu? Masihkan ia se-lembut dulu?

Apa kabar hati? Sudahkah ia seperti padi? Sudahkah ia seperti karang?

 

Tabungan rindu

“Kenapa?”
“Kefikiran dia…”
“Kangen?”
“Gak tau, tapi dia ada disini terus..”
“Itu namanya kangen”.
“Trus aku harus gimana?”
“Ya gak gimana gimana, gak semua hal kita rasakan perlu disampaikan”.
“Gak boleh di-utara-kan?”
“Bukaan gak boleh, tapi belum saatnyaa. Tabung dulu aja kangennya”.
“Sampai kapan?”
“Sampai waktunya tiba”.
“Hmm…”

Diantara sekian banyak keraguan, saya paling tidak suka keraguan pada jalan yang telah saya pilih. Pada pilihan yang dulunya saya anggap sebagai jalan yang terbaik, kemudian pada saat akan menjalaninya, bahkan sebelum memulainya pun saya sudah mulai ragu. What should i do?

Ziing

Sore itu, langit sedang berwarna jingga, ketika saya sedang memasuki gedung kampus yang berbentuk huruf U. Di tengah perjalanan, saya melihat seseorang yang berjalan dari arah berlawanan, sebut saja namanya Ai. Dia bukan sosok yang asing, karena saya sudah mengenalnya sejak 3 tahun yang lalu. Dia sedikit populer dikampus kami, dia pinter, dan juga aktif berorganisasi. Seharusnya dia juga sudah mengenal saya, karena kami pernah berada dalam suatu acara kepanitian tiga tahun yang lalu. Saat jarak semakin dekat, dengan sengaja saya melihat kearahnya dengan maksud ingin menyapa, itu adalah rules baku ketika junior bertemu dengan senior. Kabar baiknya, dia juga menoleh ke arah saya, satu detik, dua detik dan ziiing… Pandangan kami bertemu. Seulas senyum terbentuk dari bibirnya. Dengan badan setengah membungkuk, saya pun menyapanya layaknya junior menyapa senior, “Mas…”.